Sabtu, 19 Maret 2016

Kromatografi Senja

Minggu, 20 Maret 2016

Entah harus dari mana ku menyampaikan, yang terpenting saat ini, perasaanku amat rumit,
Berdiam diri, sendiri di keramaian, bersama secangkir kopi yang rasanya tak lebih pahit dari rasa di minggu ini. Merasakan dinginnya tempat ini, tempat yang tak asing lagi bagi kisah kita, tempat dimana semua kisah ini  bermula, tempat yang sediakala menjadi saksi akan aku dan kamu yang mungkin kini tak ada lagi kamu, hanya aku.

Aku tak menyalahkan mu, yang ku salahkan hanyalah waktu dan diriku sendiri kemarin. Terlalu bodoh untuk sebuah harapan sederhana, tak dapat memelihara dan mempertahankan kisahnya sendiri.

Aku lupa akan resiko ini, bahagia dan kecewa dimasa depan adalah satu paket yang harus kutanggung kapanpun. Salahku, aku tak pernah siap untuk itu.

Aku selalu yakin bahagia itu sederhana, sesederhana itu kau  selalu ada untukku, sesederhana itu kau bisa menjaga perasaan ku, yang terpenting adalah hati yang saling terpaut, membuang jauh egoisme, saling percaya, dan memaafkan.

Aku tak paham tentang ego mu, yang ku pikirkan hanya bagaimana kedepannya kita. Kemarin, saat kata-kata itu keluar dari mu, dan tak terlitas sedikitpun kata bahagia keluar dari mu, kau menghapus gambar itu, kau menghapus memori akan tempat itu, pada saat itu lah bahagia ku sirna.
Aku paham dengan kondisi kita, yang tak bersama walaupun tetap terhubungan baik, aku tahu kondisi ini sangat tidak enak bagi kaum mu, sepi yang menghantuimu setiap saat, emosi jiwa mu yang tak terkendali menjadi musuh terbesar dan hanya menjadi bom waktu  yang dapat meledak kapan saja.

Aku paham, kejenuhan mulai merambah mu, rasa kesal di tiap hari mulai menguasaimu akan sikap ku, membuat cinta itu kini terbenam dan takkan terlihat lagi, seolah senja yang takkan mengembalikan matahari di esok hari, kiamat.


Aku paham, jadi kini, nikmatilah hari ini dan seterusnya, selamat menikmati suasana baru yang kau inginkan, aku takkan mengganggumu sampai waktu yang mungkin menyadarkan hatimu, namun pada hari itu aku tak yakin jika waktu itu datang apakah hatiku masih seperti sekarang. Aku telah banyak berkorban, berbohong, dan mengalah untuk ini, tak usah kau buang energimu untuk marah dan mengancam lagi, mungkin nanti bila saatnya hati ini lelah, aku yang akan pergi.

Semoga berbahagia dengan wanita yang kau kenal di sana. Semoga dia bukan jadi alasan hubungan jarak jauh yang telah sirna ini. Berbahagialah. 

Selasa, 14 April 2015

Kelinci "Aurum Flerovium N"

Saat kau singgah diwaktu yang tepat

Semua berawal dari kemurungan yang berlarut-larut, tak semua nasehat yang didapat selalu kulakukan dengan baik, banyak waktu sia-sia terbuang karna satu hal berlarut yang selalu terpikir dalam kepalaku. Hingga akhirnya kau yang takterpikir hadir.


Aku, halnya kelinci dalam daftar pencobaan abadi.


Kalau bisa meminta, Kelinci  tak akan mau waktu itu datang. Waktu ketika Kelinci memintanya, bertemu mata dengan ukuran waktu yang sangat lama di studio rekaman kala itu Atau waktu baru-baru ini, seseorang yang hanya sejenak singgah, satu kisah yang baru, satu kisah yang baru-baru ini singgahi benak Kelinci.

Ia datang disaat yang tepat, tiga tahun sudah Kelinci dibodohi waktu dan seseorang dengan set drum, yang tak pernah melihat Kelinci, tetiba datang seseorang yang tak Kelinci kenal lalu mengisi hari-hari gelap Kelinci.

Ia datang dengan memberi Kelinci setangkup harapan, memercikkan Kelinci dengan embun sejuk yang sedari awal ia berikan hingga batas kemarin.

Ia yakinkan Kelinci, bahwa dengannya, mencintainya, Kelinci bisa dapatkan cinta.

Ia amat yakin hingga mebuat keakuan Kelinci akhirnya luluh, melakukan halnya pujangga mencari cinta.
Namun cara Kelinci yang terlalu mudah meyakinkannya membuat ia sedikit bosan.




Kelinci tak berniat jatuh cinta, 
Kelinci tak ingin memulai, namun ia meyakinkan Kelinci, memuja Kelinci dengan cara yang tak pernah sekalipun dilakukan oleh seseorang dipikiran Kelinci dengan set drum dahulu.

Bodoh saat Kelinci lakukan kembali kesalahannya, mudah terbuai, terlampau bising, tak pernah bersabar akan mendapatkan kepemilikan.

Salah Kelinci, selalu merasakan hal terlalu cepat, memikirkan terlalu banyak, perduli berlebih, dan yang terutama, Kelinci yang akhirnya pertama mencintai.







Hingga akhirnya kau tinggalkan Kelinci dengan waktu yang terlampau cepat.

Senin, 02 Maret 2015

I KNOW NOW YOU'RE MY ONLY HOPE...


       
                Siang hari ketika jam pelajaran Tata Boga hampir mulai. Beberapa jam sebelumnya terdengar langkah kaki seorang lelaki paruh baya berkulit gelap, mata sipit, rambut ikal pendek, melintas di koridor lantai 2 menggunakan seragam Linmas lengkap, lelaki tersebut nampak membawa sesuatu di sela-sela jarinya, gunting steinless kecil yang mungkin lebih sering terlihat dibawa oleh ibu-ibu hamil  sebagai penangkal aura negatif atau juga oleh seorang tukang cukur. Ia terlihat menyeramkan, setidaknya bagi kami para murid SMAN 20 juta Matador terutama bagi murid laki-laki yang berambut melebihi batas seharusnya rambut pendek yang dilegalkan.
                SMAN 20 Juta Matador, sekolah yang dianggap banyak warga Matador sebagai SMA favorit. Anggapan tersebut memaksa orang-orang di dalamnya untuk selalu menjaga perilaku dan memperhatikan penampilannya. Anak remaja, anak SMA, dan gaya hidup mereka seakan tak mau kalah dengan gaya hidup sekolah swasta bergengsi hingga artis-artis papan atas dan mancanegara. Peraturan dibuat untuk ditaati, peraturan tentang berpakaian, bersikap, dan sebagainya sudah diatur sejak awal masuk sekolah ini. Berpakaian rapi lengan panjang dan rok/celana panjang lengkap dengan bet, ikat pinggang, topi, dan tak lupa kaus kaki putih diatas mata kaki dan sepatu hitam adalah peraturannya, namun yang kami-anak remaja SMA- lihat adalah seperti ini; rok dipotong beberapa centi hingga mengatung setengah betis, atau celana yang dibuat lebih ketat dari aslinya, dengan atasan berlengan yang dipotong pendek bahkan melebihinya hingga terlihat seperti tanktop, tidak perlu memakai topi dan tidak harus kaus kaki putih. Yang terpenting dan yang paling sering kami langgar adalah...sepatu, hitam menurut kami hanya untuk hari senin, selebihnya warna lain mendapat gilirannya di hari-hari selanjutnya.
                Pak Bondan adalah wakil kepala sekolah yang paling gencar menegakkan kedisiplinan di sekolah ini, terutama dalam segi berpakaian, anak-anak necis beralas kaki terang dan berambut gondrong adalah incaran utamanya. Apakah hanya ia yang patut dihindari saat kami memakai sepatu selain hitam di sekolah? Tentu tidak. Hari itu adalah hari yang menegangkan untuk semua murid karna untuk pertamakalinya semua guru digerakkan untuk merazia setiap kelas untuk mencari murid-murid beraslas kaki selain hitam dan juga beberapa pelanggaran lainnya. Untuk yang tidak melanggarnya, ya tenang-tenang saja, atau yang kebetulan punya cara untuk mengakalinya pun juga tentu tenang-tenang saja.
                Jam pertama sekolah dimulai hingga selesai jam istirahat kedua berakhir, aku masih aman dengan sepatu Bandflat Crocs berwarna Navy yang baru kubeli kemarin. Kelasku memang kebetulan mendapat guru-guru yang sangat baik, mengabaikan perintah untuk merazia kelas saat itu dan lebih memilih untuk melanjutkan pelajaran yang sedang dibahas. Hemmm aku sedikit setuju dengan beberapa guru yang tidak masalah dengan apa yang kami pakai saat jam pelajaran dimulai, karna menurutku saat seseorang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tepat waktu tak perduli apakah seseorang itu memakai seragam atau tidak asalkan selesai dan tidak membuat kekacauan menurutku sah-sah saja. Hihi pendapat yang dangkal, ya setidaknya sekolah ini telah menetapkan peraturan, jadi kami harus menaatinya. Hingga jam pelajaran terakhir dimulai, pelajaran Tata Boga, pelajaran yang tidak terlalu aku suka namun tergolong mudah untuk dipelajari karena bahan ajarnya adalah bahan makanan yang sehari-hari kutemui. Hari ini guru yang biasanya mengajar berhalangan hadir, dan mendadak digantikan oleh guru lain, Pak Heriyanto, guru muda yang santai dan supel bagi sebagian murid, walau wajahnya sedikit terlihat seperti tokoh kartun kura-kura yang kurang kusukai. Pelajaran dimulai dan semula berjalan biasa-biasa saja hingga Pak Bondan datang ke kelas kami dan mengingatkan Pak Heriyanto untuk memeriksa kedisiplinan kami dalam berpakaian. Razia pun dimulai, hingga Pak Heriyanto berada tepat di depanku dengan tampang santai seperti biasa, lalu menyimpulkan bahwa semuanya baik-baik saja....hingga beberapa detik ia tersadarkan lalu mengarah pada bagian bawah meja ku, matanya seperti terkejut oleh warna yang agak kontras dengan warna sepatu milik seseorang disebelah kursi ku. Aku kena razia. Sepatu ku disita. Dan aku pulang dengan sejahtera tanpa alas kaki. Berjalan dari sekolah ke depan gang sekolah untuk naik ojek bukan perkara mudah. TELAPAK KAKI PANAS ANZZZZZNG!!!
                Sejak kejadian itu aku jadi mengingatnya, seseorang yang awalnya tidak ku anggap apa-apa dengan wajah mirip tokoh kartun kura-kura yang tidak terlalu kusukai dan dengan pelajaran yang ia ajar. Aku sedikit kesal.
                Sudah seminggu semenjak rolling class, aku berada di 11 IPA 4, kelas dengan mayoritas anak-anak dengan kemampuan otak sama namun dengan karakter yang tetap berbeda-beda. Sistem yang dibuat sekolah ini memang sengaja dibuat unik, karena dinilai lebih efektif dan membuat kami semua saling mengenal satu angkatan penuh. Di koridor lantai 2 tempat dimana kelasku berada terlihat sibuk di jam 10.00 dan jam 12.00, adalah jam istirahat, tempat favoritku dan sahabatku adalah di depan tong sampah dekat pintu kelas yang berada tepat di tengah koridor ini, ya kami memang cinta lingkungan, agar mudah membuang sampah jadi kami berdiri saja di depannya haha. Kami duduk dan sekedar melihat-lihat wajah teman-teman yang sedang lewat juga menyapanya untuk beberapa kali. Ditengah trauma dan kekesalanku belakangan ini, melintas seorang laki-laki berpostur tinggi, rapi, berjalan tepat di depan ku bersama gerombolan temannya, postur dan mimik wajahnya mengalihkanku saat itu. Wajahnya sangat mirip Pak Heriyanto, guru yang membuatku tidak senang.
                Sejak saat itu aku menilainya sebagai kembaran Pak Heriyanto, atau anak mungkin, atau adik, apa saja yang menurutku berbau pak Heriyanto. Aku mengabaikannya, laki-laki yang ku bully dalam hati tadi.
                Pelajaran seni dimulai, dan aku senang bukan main, tugas akhir yang ditargetkan Pak Didit kepada kami memang membuatku senang, tugas membuat lagu sendiri dan merekamnya dalam bentuk mp3 dengan mewajibkan kami membentuk sebuah kelompok sesuai kelas awal kami. Menyenangkan bagiku yang sangat menyukai musik. Walau tidak sedikit teman-temanku yang mengeluh. 
Hari demi hari saat jam kosong, kami lalui dengan menyibukkan diri membuat bait-bait puisi yang nantinya kami jadikan sebagai lirik lagu. Kebetulan dikelasku ada salah satu sahabatku yang juga anggota kelompokku, kami mulai membuat lagu itu di kelas. Aku duduk di bangku kedua paling belakang di 11 IPA 4,  dibelakang kami ada dua anak laki-laki, yang satu berbadan gempal bernama Delon, dan satu lagi laki-laki yang dianggap banyak orang tampan, yaitu Andrew. Mereka adalah laki-laki terberisik dan tersering menggosip yang pernah aku temui di kelas ini. Setiap pagi ada saja bahan yang membuat mereka membicarakan seseorang, hihi kadang aku juga suka ikut-ikutan menggosip dengan mereka, namun bercanda bersama mereka jauh lebih menyenangkan, seperti menggoda mereka saat judi bertaruhkan bedak di coret ke wajah dan beberapa ‘mi sooor’ atau keusilan mereka membakar meja dengan korek gas saat ja pelajaran, dan masih banyak lagi kegilaan yang mereka buat yang terkadang melibatkan aku dan sebangku ku Intan.
                Hari rekaman tiba, aku dan beberapa teman sekelas ‘asli’ ku berbondong-bondong memasuki studio Denada Music School, heh, tempat ini tidak asing bagiku, bagimana bisa aku lupa, tempat aku menimba ilmu musik sejak kecil hingga sekarang.
                Aku memainkan piano di lantai bawah studio Denada, dengan wajah cemas  yang tiba-tiba karena konsep yang kami buat mendadak berubah karena ketidaklengkapan pemain music di kelompok kami. Aku sedikit mendengar tentang beberapa teman yang hebat memainkan instrument music sedang banyak diminta untuk menjadi pemain tambahan pada saat rekaman music tersebut. Di kelompokku kekurangan pemain drum, bass, dan gitar.

George, teman sekelasku yang baru saja memenangkan ajang pencarian bakat di sekolah sebagai pemain bass terbaik, aku mengajaknya untuk mengisi di kelompokku, ia menerimanya, selesai. Gitar, tidak sulit mencari seseorang yang bisa memainkan gitar dengan baik saat itu, namun hanya sedikit yang mempunyai skill yang cukup dan kerendahan hati. Pemain gitar tak berhasil kami dapat. Selanjutnya Drum. Satu-satunya temanku di kelas yang bisa memainkan drum adalah Whisnu, namun ku dengar ada seseorang di sana yang ramai diminta menjadi tambahan pemain drum juga. Aku meminta pendapat dengan salah seorang teman sekelasku, Bimo, ia paham betul kemampuan orang-orang pemain musik yang dari awal mendapat kesempatan rekaman terlebih dulu. Bimo tidak merekomendasikan Whisnu untuk megisi drum, itu karena permainan drum Whisnu belum sebaik pemain yang satu ini untuk diminta rekaman. Aku penasaran dengan orang yang disebut Bimo, hingga akhirnya ku tahu seseorang itu adalah laki-laki di koridor waktu itu, laki-laki yang berparas mirip Pak Heriyanto yang ku ingat hingga sekarang. Karena pikiran itu sampai-sampai aku tidak berani untuk mendekat dan memintanya mengisi drum di kelompokku.
                Aku duduk di kursi piano yang sedari awal masuk studio ini kumainkan, sambil sesekali melihat ke arah tangga yang  jaraknya hanya satu meter dari piano yang ku mainkan berharap laki-laki itu turun dan menawarkan diri untuk membantu kelompok ku. Setelah berfikir dan berdebat dengan sahabat-sahabat di kelompokku, akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta laki-laki-berwajah-pak-Heriyanto tersebut mengisi drum saat rekaman. Laki-laki yang aku maksud selama ini adalah Sandy Seno Purnama, ialah laki-laki berwajah guru yang membuat ku kesal waktu itu, juga sedang banyak dibicarakan orang karna keahliannya memainkan drum walaupun ia baru sekali mendengar lagu yang akan ia bawakan tersebut.

Di tangga,

(menoleh ke arah ku)

“ehm bangsan, sorry gue bisa minta tolong? mau ya ngisi part drum di kelompok gue, kebetulan udah ada instrument piano sama ada bass juga, hehe, gimana?” tanya ku dengan gugup sambil mendengakkan kepala.”

“oh boleh boleh, genrenya apa? Kapan nih latiannya?”

“alhamdulillah akhirnya...genrenya pop kok, oh gini deh setelah lo kelar rekaman aja ya nanti gue tunggu di piano” jawabku.

                Untuk seorang remaja dengan keahlian drum yang tidak seahli para musisi papan atas, aku salut dengannya yang langsung mau mengambil tawaran kelompokku untuk mengisi drum walaupun dia tidak tahu sama sekali lagu yang akan dibawakannya saat rekaman. Di sekolah memang banyak nama sebutan yang dibuat oleh teman-teman, Sandy lebih terkenal dipanggil Bangsan, dan aku Wilma yang juga lebih sering disebut Witrop.

                Di ruang mixing, aku sedikit memantapkan vocal dengan teman-temanku, Bangsan tiba...

“eh coba gue denger lagunya dulu” pintanya secara tiba-tiba.

“eh iya ini, tapi cuma versi pianonya aja, gapapa?” sambil menyodorkan smartphone ke telinganya.

“gapapa, coba sini gue denger,...ehm, ini lo ngerekamnya pake apa? Kok bisa jadi mp3?”

“oh itu....pake yang namanya aplikasi di tablet hehehe” kata ku dengan senyum lebar, bangga.

“oh...” (melanjutkan mendengar sambil duduk di sebelahku dengan posisi seperti penari saman).

****

“wil, ini kita diselak melulu sama kelompok lain, kita kapan rekamannya nih:( ” ucap Dina, salah seorang sahabatku yang juga sekelompok dengganku.
“iya, iya gapapa din bagus dong lagian kan gue jadi bisa latian dulu sama George & Bangsan di bawah, hehe bentar yaaaa, panggil gue kalo udah mau giliran kita, gue ke Piano dulu latian”
                Latihan singkat kami dimulai, George duduk memegang bass diatas kursi yang berada di sebelah kursi piano, aku duduk di kursi piano memainkan intro dan bagian awal lagu ku, sementara Bangsan duduk tepat di sebelahku, di kursi piano yang panjang yang juga sedang aku duduki, kursi itu sangat cukup untuk kami berdua, ia terlihat lebih mandiri dalam mencari bagian drumnya. Bait perbait kulantunkan lyric lagu yang ku buat bersama sahabat-sahabatku itu, aku lihat sedikit reaksi George dan Bangsan yang menaikkan alis mereka saat mendengarnya, hihi lagu yang aku buat memang tidak umum, dan lyricnya menyedihkan, haha tapi siapa sangka dengan lagu itu bisa merubah semua keadaan dikemudian hari...ihihi lihat saja nanti.

            Latihan singkat kami berjalan alot dan terburu-buru, namun kami semua memang sudah maklum dan tidak lupa berdoa lebih keras untuk kelancaran saat rekaman nanti.
          
Tiba giliran kami,

“Kelompok siapa gilirannya nih?” tanya pak Didit selaku guru musik dan produser rekaman dadakan.

“kelompoknya Wilma, Intan, Nindhya, Dina pak hehe, judul lagunya ‘One Way Love’ (aku menuliskannya di secarik kertas)”

“oke latihan dulu atau langsung take?”

“latihan paaaak...” jawab kami bersamaan.

                Lagu One Way Love dimainkan, dimulai dari aku sebagai intro yang menyanyikan lyric pertama, saat itu mata ku hanya terfokus pada wajah orang-orang dihadapanku, namun ada yang beda, ada seseorang yang menarik mataku, seseorang menatapku jauh lebih lama ketimbang tatapanku kepada semua orang di studio rekaman saat itu, awalnya ku kira hanya sekedar eye contact antara pemain music untuk memberi kode saat rekaman dimulai apabila terjadi missed komunikasi di bagian musicnya, namun tatapan itu tidak berhenti selama 4x kami mengulang take.

Take ke 3

(music berhenti)

“yuhuuuu akhirnya selesai juga, makasih ya George makasih juga Bangsan udahh bantuin kita, maaf kalo ngerepotin, maaf kalo kita ancur banget nyanyinya...blahblahblaaaa” kataku seperti berdakwah.

“heh heh heh pada mau kemana kalian” terdengar suara bising dari balik kaca studio rekaman.
(kami semua kaget)

“ini belom di rekam iniii kok pada mau selesai ajaaaa” jawab pak Didit

“hah apaaa? Jadi belom di take? Aduuuh padahal tadi udah palling rapi” balasku mendumal dengan tidak menggunakan mic.
                Akhirnya rekaman diulang, dan dengan kejadian yang sama, seseorang itu menatapku lagi dengan dalam dan tidak lepas selama lagu itu berjalan. Ya orang itu adalah Bangsan.
                Tak perduli hasil rekaman yang tidak rapi, dan suara kami yang sedang tidak maksimal saat itu, atau permainan music para pemain tambahan yang direpotkan oleh kami karena diuji untuk mengikuti suara kami yang berantakan, tatapan itu tetap membekas hingga keesokan hari. Bahkan saat kembali dari studio Denada aku tidak berhenti membicarakan Bangsan pada Intan yang kebetulan pulang bersama karena rumahnya yang tidak jauh dari rumahku. Intan membaca kata-kata ku, ia bahkan lebih dulu mengira bahwa aku telah jatuh cinta. Aku menolak pikiran yang ada pada saat itu. Aku tidak boleh menyukainya, tapi aku juga tidak boleh membencinya, ya, awalnya ia hanya murid laki-laki yang diam-diam aku bully di hati kecil ku, dan aku yang diam-diam membencinya tanpa sebab, namun sekarang seolah boomerang yang berbalik sehingga aku bisa jadi menyukainya, sangat menyukainya.
                Ini akan menjadi cerita yang sangat panjang. Semua berawal dari sebuah tatapan tanpa putus selama 4x hitungan sebuah lagu. Hampir 12 menit. Aku adalah tipe orang yang mudah jatuh cinta hanya dengan bertemu mata, dan itulah kesalahanku. Menurut jurnal yang pernah kubaca saat masih SMP seseorang berlawanan jenis dapat dengan mudah saling tertarik hanya dengan tatapan mata kurang lebih 8 detik. Aku melampauinya, aku tak sadar saat itu, yang ada di pikiranku hanya lagu  yang ku rekam, dengan kekompakan para pemain music, hingga aku lupa untuk berpaling dari matanya saat itu. Aku iseng menyeleksi contact Blackberry Messenger yang kupunya, sekedar mengelompokkan contact, namun ada yang mengejutkan ku tiba-tiba, ada contact BBM Bangsan di smartphone ku, entah sejak kapan berada disana, entah aku yang mengundangnya atau ternyata ia, aku tidak ingat, dan perbincangan kami dimulai dari sini.

*status bbm* is listening to IPA 2-ALLEYDA
B : eh, udah punya lagu-lagu rekaman yg kemaren? Bagi dong.
W : eh hehe enggak semua sih cuma beberapa, kebanyakan rekaman kelas gue aja.
B : yah kirain udah ada semua.
W : kalo mau minta lagu bisa ke Valeria ya San.
B : oke makasih yak.
W : sama-sama.
B : eh kalo gitu gue minta hasil rekaman lo dong.
W : ah rekaman kelompok gue? Ehm jangan ah malu gue, jelek banget hasilnya, ntar lu ngetawain gue lagi.
B : -____- dari mana lu tau kalo gue nanti ketawa?
W : eh iya hehe, iyaudah deh tapi janji yak jangan ngakak, sumpah gue aja geli dengernya, eh gue juga minta rekaman kelompok lu ya nanti.
B : -___- iya Wil, nanti ya kalo gue udah ada rekamannya.
*status bbm bangsan * (is listening to XI IPA 2 WILMA-ONE WAY LOVE)
(aku memfoto layar)

                Obrolan kami berlanjut hingga hari berikutnya, sejauh ini ia belum mengetahuinya, tentang arti tatapan itu, tentang perasaan waktu itu. Banyak hal yang kami bahas saat mengobrol di BBM, dari mulai bertukar lagu, sekedar berbagi hal menarik saat proses rekaman selama tiga hari kemarin, hingga membicarakan orang lain yang menurutku seperti menggosip pun kami lakukan, hihi, ialah teman sekelas ku di Bimbingan Belajar Sumba, Dewanta, ia juga teman sekelas Bangsan di sekolah, Bangsan bilang ia sama sekali tidak melihat Dewanta pada hari rekaman kemarin, padahal pada hari setelah itu juga Dewanta menunjukan hasil rekaman piano solo nya pada ku, ‘cerita’ yang janggal ini lah yang menjadi bahan obrolan kami semalaman, kami sama-sama meragukan rekaman solo piano Dewanta yang berisi rekaman piano bertempo cepat dengan lagu yang mengagumkan, aku percaya pada Bangsan bahwa Dewanta memang tidak datang saat rekaman, dan kami sama-sama mengira kalau permainan piano dalam rekaman itu bukanlah Dewanta. Hahhahaa kami jahat *maafkan aku Dewa*.
                Sungai duka yang sediakala kering dan sunyi kini mulai tersiram embun yang semakin lama menyejukkan, membelah pikiran dan hari-hari ku tiap hari, Hari-hari ku jadi lebih berwarna, seperti ada banyak kupu-kupu atau mungkin kura-kura yang berterbangan di perutku saat ku lihat namanya muncul di timeline twitter, entah mungkin ku hanya terlalu pede saat kuperhatikan tiap kali aku bercuit tentang music, atau kejadian kemarin setelah rekaman, terlihat cuittan Bangsan ada setelahnya, tiap kali ku berkata, ia selalu terlihat seperti membalasnya tanpa menyebut langsung. bodohnya, aku terlalu percaya diri.
                Banyak kejadian yang menggambarkan seolah harapan ini terbalas, aku tidak melihat wujudnya, hanya sebuat isyarat yang menuntunku untuk selalu mengaguminya, atau bahkan kini telah berubah menjadi kasih sayang. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku merasakan jatuh cinta, menyayangi orang lain selain orang tua dan keluarga dengan ikhlas, merasa hati yang kupunya terkurung akan kesetiaanku menyukainya seolah ku kan berusaha setia padanya hingga saatnya tiba.

Saat tiba, aku menunggu saatnya akan tiba, meski tak dijanjikan harapan, aku akan terus menunggu saat itu, saat dimana seseorang belum menghancurkan masa-masa ini, ketika sikap kami terlampau biasa saat berbincang, bersikap tanpa nervous dan dengan tatapan itu lagi.

                Siang itu aku muak dengan perkataan orang mengenai perasaan ini, dua orang laki-laki di kelasku yang sedari awal kuceritakan kini tau bahwa aku menyukai Bangsan, adalah teman mereka pula, teman mereka saat berlatih band. Disanalah keadaan semula, aku dan Bangsan tidak lagi sama, perlakuan dan perbincangan kami sudah tak sebanyak dulu, sudah banyak pesan palsu di BBM yang dilakukan dua orang laki-laki sekelasku yang menggoda Bangsan saat mereka sedang latihan band. sangat mengganggu.

Kurasa ia malu, ia malu karna kehadiranku, ia malu karna ia tahu aku menyukainya, terlebih hampir semua orang kini tahu kalau aku menyukainya. Kehadiranku kini sangat mengganggu baginya. Walaupun gossip diantara kami hanya lewat begitu saja dan tidak banyak yang menghiraukan, namun itu adalah sesuatu yang membuatnya merasa malu, mungkin. Tentu aku kecewa,

                Ujian akhir kelas 11 berakhir, perjalanan kami sekelas untuk berlibur bersama ke puncak Bogor pun dimulai, seseorang yang ku kagumi itu meminta untuk bisa ikut dengan rombongan kami, namun peraturan untuk tidak mengajak seseorang di luar dari kelas kami pun mutlak. Aku sedikit sedih, karena saat itu aku kehilangan kesempatan untuk dapat bersamanya selama 3 hari. Sekolah ku memang sering mengadakan kegiatan, kegiatan yang unik dengan menampilkan banyak ide-ide unik, diantaranya saat pentas seni, ulangtahun sekolah, pentas seni musik tradisional, dan masih banyak acara lain yang membuatku lebih sering melihatnya, Melihat seseorang berparas guru yang paling kubenci dengan bayangan skill permainan drum dan jiwa seni nya. Aku tak bisa melupakan nya.

                Sandy Seno Purnama, Ialah seseorang yang mengusik hati dan sedikit ruang di pikiranku saat sedang sendiri, sedih, juga di sekolah. Seseorang dengan drum yang yang menghentak sedikit ruang di jantungku, seseorang dibalik rangkaian alat musik tabuh yang membuatnya seolah-olah orang terkeren, laki-laki paling jantan di mataku dengan tubuh tinggi tegap berisi, namun dengan tatapan mata yang tidak sama lagi seperti  waktu itu, seperti waktu cerita kami belum tersentuh mereka, saat sesuatu yang kuanggap sinyal masih tebalas walaupun  ku hanya tau melalui social media.

Mungkin orang melihatku aneh, terlalu percaya diri, aku juga dianggap menggganggunya dan sangat bodoh karna mudah terpesona, Terlalu bodoh untuk tiba-tiba sedih hanya karena melihat ia jalan dengan orang lain atau sekedar bertegur sapa dengan junior kelas dan teman perempuan seangkatan. Tapi hatiku seolah terkunci, menjadi rumah yang dikunci hanya padanya, seseorang yang tak bertanggung jawab mengunci pintu ini dan sengaja menghilangkan kuncinya. Sekarang perasaan itu tak lagi sama baginya. Tidak bagiku, semakin hari selalu teringatnya, membayangkan ia ada di dekatku selama ini, menemaniku saatku pergi hanya dengan mempertahankannya di contact BBM dan tidak menghapus percakapan kami yang telah lama, sampai akhirnya smartphone itu rusak dan semuanya hilang. Tak ada lagi bukti kode dan sinyal yang pernah ia berikan dahulu, juga percakapan kami. Kini yang ku punya hanya kepercayaan, percaya bahwa masih ada sedikit ruang dihatinya yang tertinggal, kunci yang kukira hilang pun masih ada padanya pikirku, walau aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

****
                Tiga tahun sudah, tiga tahun ku menunggu akan perubahan, untuk ia yang dulu pernah sedekat itu denganku, ia yang walau tak pernah memberiku harapan, dan ia yang tak pernah memberiku kesempatan untuk membuatnya bahagia, namun membekas dalam pikiranku hingga kejadian disekelilingku seakan bicara bahwa sesuatu telah terjadi, yang akan membuat kami jauh.

Tak banyak yang bisa ku lakukan, aku wanita, aku tak mungkin memulai hubungan, sudah cukup bagiku untuk berani mengajaknya berfoto saat perpisahan sekolah kami tahun lalu. Itu pun menguras banyak keberanian dan membuatku sakit di bagian kening, aku tidak siap saat itu, tapi itu harus terjadi, berkat bantuan sahabat-sahabatku kini kami dapat dekat setidaknya untuk beberapa detik dapat berdampingan lagi seperti saat itu ia duduk disampingku, di depan piano yang sedangku mainkan, dengan lagu yang ku  buat bersama sahabat-sahabatku, atau hanya sekedar mengarahkan smartphoneku ke telinganya untuk memberitahu aransemen lagu yang kumainkan dan berkata hal bodoh ‘ya itu memakai aplikasi di tablet’ benar, saat itu aku memang tidak tahu apa-apa tentangnya, yang ternyata adalah seseorang yang sangat tahu dan menggemari IT.

                "we are different but we have something in common" Aku sependapat dengannya. yang mereka tahu, aku sangat menggemari muskc, terlebih instrument yang kumainkan, piano/keyboard, genre musikku nampak berbeda dengannya, ya sebenarnya ia tak tahu bahwa aku menerima banyak genre, ia benar-benar tak mengenalku, tak pernah melihatku. Ia adalah pemain drum yang sangat terkenal di sekolah, dan ia sangat hebat memainkannya, genrenya pun tergolong musik  keras, sangat berbeda denganku, ya aku mengenalnya diam-diam, aku tahu banyak hal tentangnya, bahkan yang ia tak tahu sekalipun, Maaf.

Kini yang kubisa hanya menunggu saat-saat kami dapat dipertemukan dengan tidak sengaja atau saat-saat dimana aku berjuang membuat beribu alasan untuk dapat bertemu nya secara kebetulan, lalu mengekspresikannya pada social media terkini dengan lagi-lagi memberinya sinyal, berupa lirik lagu yang dahulu adalah bahasa kami saat kami jauh, saat kami diam dan jauh. Kami mengekspresikan banyak bahasa, waktu, dan kejadian dalam lagu yang sedang kita dengarkan, lagu yang setidaknya bisa kami pilih untuk saat itu menggambarkan perasaan kami. Dahulu ‘kami’ adalah sebutan yang cocok untuk menggambarkan sikap aku dan dia saat itu, namun kini hanya ada aku, aku yang terus memberi sinyal, walau tanpa reaksi apapun darinya, hinga terus bersabar menunggu waktu itu, saat ia menyadari sinyal yang kuberikan dan ia mau mengapresiasikannya lagi seperti dulu kami berbalas.

Untuk pertamakalinya ia memberi tanda LOVE pada status yang baru ku buat di social media. Seperti gelas kaca kotor tak berisi yang dituangkan air di dalamnya, harapan itu hidup kembali. Umpan yang sedari dulu ku lempar berhasil menggentakkan, walau setelahnya hanya tangan kosong yang kudapat, rasa kecewa yang timbul akibat terlalu senang.  Sampai saat kusadari bahwa ia dengan sengaja melepas kail ku lagi, melepas harapan, ia berhasil bawa pergi umpan itu lagi dengan sempurna dan mengurungku dengan harapan yang kini pupus.
Ia bertemu orang lain.


"I kept passing by every sign, hoping one day I'd make you mine, we'd be laughing side by side. Where ever you are, when ever you need me, just crawl in my arms and I'll hold you beside me. I want my love to surround you......"

But....

I know now you're my only hope.
selamat tinggal kau masa remaja ku "S.S.P" :)